Kuliah Ushul Fiqh_Pengertian Ushul Fiqh
BAGIAN PERTAMA: DEFINISI USHUL FIQH SECARA BAHASA
Dalam kuliah ini, dijelaskan tentang definisi ushul fiqh dari sisi susunan kata yaitu ushul dan fiqh. Penjelasan diambil dari kitab al-Ushul min ilm al-Ushul karya al-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, seorang ulama kontemporer yang prolifik dalam bidang hukum Islam.
BAGIAN KEDUA: DEFINISI USHUL FIQH SECARA ISTILAH
Dalam Video ini dijelaskan tentang pengertian ushul fiqh menurut istilah. Dalam kajian ini dibahas karya Syaikh al-Utsaimin, yaitu al-ushul min ilm al-Ushul
KOMPILASI FATWA MAJELIS TARJIH DAN TAJDID PIMPINAN PUSAT MUHAMMADIYAH SEPUTAR PUASA DAN IBADAH RAMADHAN
1. Hutang Puasa Lewat 2 Kali Ramadhan, Bagaimana Menggantinya?
Lihat di link berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/ketentuan-qadla-mengganti-puasa-ramadhan-yang-ditinggalkan/
2. Cara Membayarkan Hutang Puasa Orangtua, silahkan clik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/cara-membayarkan-hutang-puasa-orangtua/
3. Membayar Hutang Puasa Dalam Kondisi Hamil, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/hutang-puasa-hamil-diganti-fidyah/
4. Bolehkah Suami Menggantikan Puasa Qadha Istrinya?Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/bolehkah-suami-menggantikan-puasa-qadha-istrinya/
5. Fidyah dengan Uang dan Dibayarkan Sekaligus, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/fidyah-dengan-uang-dan-dibayarkan-sekaligus/
6. Hukum Onani pada Saat Puasa,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/onani-pada-saat-puasa/
7. Membatalkan Puasa Karena Kerja Berat, Bolehkah?Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/hukum-membatalkan-puasa-karena-kerja-berat/
8. Ibadah di Bulan Ramadhan dan Syawal pada Masa Darurat Covid-19,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/ramadhan-dan-syawal-pada-masa-darurat-covid-19/
9. Shalat Iftitah, Berjamaah atau Sendiri-sendiri?Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/shalat-iftitah-berjamaah-atau-sendiri-sendiri/
10. Dalil Tentang Shalat Iftitah,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/dalil-tentang-shalat-iftitah/
11. Shalat Sunnah Ba’diyah Jumat, Shalat Sunnah Fajar dan Shalat Sunnah Iftitah,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/shalat-sunnah-badiyah-jumat-sunnah-fajar-dan-iftitah/
12. Shalat Iftitah dan Ketentuan Pelaksanaannya,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/shalat-iftitah-dan-ketentuan-pelaksanaannya/
13. Shalat Tarawih Berjamaah Dengan Suara Keras (Jahr),Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/shalat-tarawih-berjamaah-dengan-suara-keras-jahr/
14. Waktu Paling Afdhal Melaksanakan Shalat Tarawih,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/waktu-paling-afdhal-melaksanakan-shalat-tarawih/
15. Penjelasan Shalat Tarawih 23 Rakaat, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/penjelasan-shalat-tarawih-23-rakaat/
16. Dalil Tentang Tidak Boleh Shalat Witir 2 Kali Dalam Satu Malam, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/dalil-tentang-tidak-boleh-shalat-witir-2-kali-dalam-satu-malam/
17. Dalil Shalat Tarawih 4 Rakaat Salam, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/dalil-shalat-tarawih-4-rakaat-salam/
18. Dalil Shalat Tarawih Dan Witir 4, 4 dan 3 Raka’at Serta 2, 2, 2, 2 dan 3 Raka’at, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/dalil-shalat-tarawih-sebelas-rakaat/
19. Penjelasan Terkait Malam Lailatul Qadar,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/penjelasan-terkait-malam-lailatul-qadar/
20. Tuntunan I’tikaf Sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/tuntunan-itikaf-sesuai-al-quran-dan-as-sunnah/
21. [E-book] Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan Edisi Covid-19,Silahkan di klik tombol berikut ini: 🔄 https://fatwatarjih.or.id/download/tuntunan-ibadah-pada-bulan-ramadhan-edisi-covid-19/
FOLLOW US
➖➖➖➖➖➖➖➖➖
🌏 Web : fatwatarjih.or.id
💻 Facebook : fb.me/fatwamu
📱 Instagram : @pusattarjih_muhammadiyah
🌐 Telegram : t.me/fatwatarjihmu
🖥 Youtube : tarjihchannel
KEHIDUPAN NABI SAW SAAT KECIL HINGGA AWAL KENABIAN
Agus
Miswanto
(Ketua Majelis
Tarjih dan Tajdid PDM Kab Magelang)
Disampaikan pada
pengajian Ahad pagi PCM Kajoran pada 08 Desember 2019, di Masjid al-Jihad SMP
Muhammadiyah Sambak, Kajoran.
QS
al-Dhuha: 1-11
وَالضُّحَىٰ ﴿١﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا
سَجَىٰ ﴿٢﴾ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ ﴿٣﴾ وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ
مِنَ الْأُولَىٰ ﴿٤﴾ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ ﴿٥﴾ أَلَمْ يَجِدْكَ
يَتِيمًا فَآوَىٰ ﴿٦﴾ وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ ﴿٧﴾ وَوَجَدَكَ عَائِلًا
فَأَغْنَىٰ ﴿٨﴾ فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ ﴿٩﴾ وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا
تَنْهَرْ ﴿١٠﴾ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴿١١﴾
Demi
waktu matahari sepenggalahan naik, (1) dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), (2) Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula)
benci kepadamu. (3) Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik
bagimu daripada yang sekarang (permulaan). (4) Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya
kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas. (5) Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim,
lalu Dia melindungimu? (6) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. (7) Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (8) Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu
berlaku sewenang-wenang. (9) Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah
kamu menghardiknya. (10) Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu
siarkan. (11)
A.
WAKTU
YANG BERMAKNA
Allah SWT bersumpah dengan waktu pagi
dan malam yang menunjukan bahwa waktu merupakan sesuatu yang penting dan
bernilai bagi kehidupan manusia. Dalam QS al-naba’ [78]: 10-11, Allah
menerangkan bahwa siang menunjukan aktivitas kehidupan (معاشا), sementara malam mrupakan waktu untuk istirahat dan munajat
kepada Allah SWT (لباسا). Siang merupakan symbol terang, cahaya,
dan dinamika, sementara malam merupakan symbol kegelapan, ketidaktahuan, dan
statis (istirahat). Perbedaan dua waktu siang dan malam yang disebut secara
bersamaan menunjukan bahwa kehidupan itu senantiasa silih berganti, dan warna
kehidupan juga beragam; ada yang mendapat cahaya dan ada yang mengalami
kegelapan. Allah SWT memberitahukan kepada Nabi SAW tentang tantangan dakwah
yang beragam,
ada yang menerima dengan baik yang disimbolkan dengan waktu pagi yang cerah,
dan juga ada yang menolak yang disimbolkan dengan malam yang gelap.
Walaupun
dakwah yang dilakukan oleh Nabi akan mendapatkan tantangan yang beragam, tetapi
Allah SWT akan terus membersamai Nabi, tidak akan sekali-kali meninggalkanya,
apalagi membencinya. Wahyu yang terputus beberapa saat, tidak menyapa nabi,
bukan berarti Allah SWT telah meninggalkan Nabi SAW, tetapi memberikan
kesempatan kepada nabi untuk terus merenungkan tugas dakwah yang akan diembanya
kedepan. Dan tugas dakwah itu adalah mengigatkan kepada manusia bahwa kehidupan
akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia. Karena kehidupan akhirat merupakan
dan tempat tinggal akhir bagai manusia, sementara dunia hanyalah kehidupan
transit yang bersifat sementara. Oleh karena itu ketika manusia mengutamakan
akhirat, Allah SWT akan memberikan anugerah nikmat dan ridha-Nya.
B.
NABI
YANG YATIM
Husain Haekal menceritakan dalam
bukunya, Hayatu Muhammad, bahwa Nabi SAW ditinggal ayahnya ketika beliau
masih dalam kandungan ibunya, Aminah binti Wahab. Setelah lahir beliau di dalam
asuhan Halimah, seorang wanita badui yang sangat baik merawat beliau, hingga
umur 5 tahun. Dalam pengasuhan Halimah inilah, nabi SAW mendapatkan basyarat
(tanda kenabian) pertamanya dimana beliau mengalami pembedahan dada untuk
pembersihan ruhani oleh Malaikat Jibril (QS al-Insyirah [94]: 1). Peristiwa
yang kemudian membuat khawatir Halimah yang kemudian mengantarkan beliau
kembali ke pangkuan Ibundanya. Kemudian diasuh oleh ibunya sampai umur 6 tahun,
yang kemudian meniggal pada saat pulang ziarah dari Madinah. Kemudian nabi SAW
diasuh oleh Kakeknya, Abdul Muthalib sampai umur 8 tahun. Setelah kakeknya
meninggal kemudian pengasuhan diteruskan oleh pamanya, Abu Thalib. Dibawah
asuhan Abu Thalib inilah Nabi SAW banyak belajar sebagai pengembala kambing dan
berdagang (QS Quraisy [106]: 1-4). Pengembalaan kambing dilakukan untuk
keluarganya maupun milik penduduk Mekah, sementara berdagang dilakukan dengan
pamanya ke Syam dari mulai berumur 12 tahun, kemudian berdagang dengan jalan syirkah (berkongsi) dengan
Khadijah ketika berumur sekitar 23 tahunan.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا بَعَثَ
اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ فَقَالَ أَصْحَابُهُ وَأَنْتَ فَقَالَ
نَعَمْ كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ (رواه البخاري)
Nabi Muhammad Saw bersabda, “Tidaklah Allah mengutus
seorang nabi melaikan dia mengembalalan kambing.” Para sahabat bertanya, “Termasuk
engkau juga?” Maka nabi Muhammad menjawab, “Ya, aku pun mengembalakanya dengan
upah beberapa qirat (keping dinar) milik penduduk Makkah.” (H.R Bukhori)
Said Ramadhan
al-Buthi, dalam bukunya Fiqh al-Sirah al-Nabawiyyah, menyebutkan ada tiga hikmah dan pelajaran di balik profesi yang
digeluti Nabi Muhammad SAW yang secara tidak langsung turut membentu
kepribadian dan cara berpikir beliau; Pertama, berdagang dan menggembala
melatih karakter Nabi Muhammad SAW. Dalam menggembala dan berdagang Nabi
Muhammad SAW melatih kesabarannya, kejujurannya dan komitmennya terhadap
tanggung jawab yang dipikulnya. Kedua, pasar dan gembala adalah
miniatur kehidupan tempat Nabi Muhammad berlatih menghadapi ragam karakter
manusia. Ketika menggembala, Nabi Muhammad mengurusi kambing dan sapi; dua
mahluk yang tidak memiliki akal sebagaimana manusia dan melatih dirinya untuk
bisa mengatur serta mengarahkan mereka. Di dalam berdagang, di pasar dan
tempat-tempat lainnya, Nabi Muhammad SAW menyaksikan tabiat, kebiasaan dan
ragam kepribadian manusia. Pengetahuan tentang sifat asli manusia kelak
membantu Nabi Muhammad dalam merumuskan satu metode dakwah yang tepat.
C.
KETERCUKUPAN
DAN BIMBINGAN
Nabi SAW dilahirkan dari keluarga yang sederhana,
tetapi mulia di mata orang-orang Quraisy. Dibandingkan dengan
saudara-saudaranya yang lain, Abdullah bin Abdul Muthalib ayahanda Nabi SAW, merupakan
orang yang tidak berpunya. Tetapi ditengah keterbatasan itu, Allah SWT mencukupkan
dan memuliakan Nabi SAW. Bahkan kehadiran Nabi SAW menjadi berkah bagi keluarga
dimana Nabi tinggal. Saat disusukan ke Halimah, keluarga ini mendapatkan
limpahan rizki yang terus mengalir, demkian halnya pamanya, Abu Thalib.
Dalam episode kehidupan beliau, Nabi SAW sempat mengalami kebingungan (dhall) yang disebabkan oleh beberapa hal. Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya, menceritakan beberapa peristiwa
yang menjadikannya Nabi SAW sempat mengalami kebingungan, pertama: Nabi pernah
tersesat di lereng-lereng pengungungan Mekah saat mengembalakan kambing pada
waktu masih kecil. Dengan kecerdasan yang beliau miliki, nabi SAW dapat pulang
kembali ke rumahnya dengan selamat. Kedua: Nabi SAW pernah tersesat jalan
bersama pamannya saat dalam perjalanan menuju Syam untuk berniaga. Imam
al-Baghawi dalam tafsirnya ma’alim al-tanzil, menceritakan bahwa pada
saat mengendarai unta di tengah malam yang gelap, jalan Nabi SAW digangu oleh
Iblis sehingga perjalanannya tidak lagi pada jalur yang benar. Pada saat
itulah, Nabi SAW diberikan pertolongan oleh Allah SWT dengan dikirimya malaikat
Jibril untuk meniup Iblis yang mengganggu jalan nabi itu, sehingga Iblis
terpental sampai ke negeri Habasyah. Ketiga: Nabi SAW mengalami kebingungan
terkait dengan kondisi umat yang melakukan penyembahan kepada berhala, yaitu
tuhan-tuhan palsu. Kemudian Allah SWT memberikan penerangan ruhani berupa
wahyu.
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ
مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا
نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٥٢﴾
Dan
demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami.
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula
mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang
Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS al-Syura[42]:52)
D.
TAHADUTS
BI AL-NI’MAH: MENOLONG ANAK YATIM DAN ORANG MISKIN
Nikmat allah SWT yang besar berupa wahyu,
agama Allah SWT lurus berpihak pada orang-orang yang lemah yang tidak memiliki
akses ekonomi, social, politik. Anak-anak yatim dan fakir miskin merupakan
kelompok orang yang harus mendapatkan pengawalan sehingga mereka nantinya bisa
hidup mandiri dan dapat menunaikan kewajiban agamanya dengan sempurna. Di dalam
QS al-Fajr: 17 Allah akan memberikan azab kepada orang yang tidak memuliakan
anak yatim. Dalam QS al-An’am: 152 dan QS al-Isra: 34, Allah melarang menggangu
harta benda anak-anak yatim. Sementara dalam QS al-Dhuha: 9 Allah melarang
perbuatan sewenang-wenang, dan Dalam QS al-Ma’un: 2 Allah mencela orang yang
menghardik anak yatim.
لَّيْسَ
الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ
الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ
وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ
وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ
بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ
وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
﴿البقرة: ١٧٧﴾
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah
timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu
ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab,
nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan
orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia
berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa. (QS AlBaqarah: 177)
KEMENANGAN DENGAN PERTOLONGAN ALLAH SWT: KISAH AKHIR PERJUANGAN RASUL
Ustadz Agus Miswanto, MA
(Ketua Majelis
Tarjih dan Tajdid PDM Kab Magelang)
Disampaikan
pada pengajian Ahad pagi PCM Kajoran pada 01 Dsember 2019, di Masjid al-Jihad
SMP Muhammadiyah Sambak, Kajoran.
QS al-Nashr: 1-3
إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ
وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا
﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ
إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا ﴿٣﴾
Apabila telah datang pertolongan
Allah dan kemenangan, (1)
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, (2)
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (3)
1) Pendahuluan
Al-Nashr
merupakan surat terpendek, surat madaniyah tetapi diturunkan di Mekah, yang menurut
Ibn Abbas merupakan surat terakhir diturunkan oleh Allah SWT pada pertengahan
hari-hari tasyriq haji wada’. Ibn Umar menceritakan bahwa surat ini turun di
mina ketika Nabi SAW mengerjakan hajji wada’, sesudah itu turun firman Allah
SWT QS al-Maidaih [5]: 3. Nabi hidup 80 hari setelah ayat ini turun, kemudian
turun ayat kalalah, dan sisa umur hidup nabi SAW 50 hari kemudian. Kemudian
turun firman Allah SWT QS al-Taubah [9]: 128, maka sisa hidup Nabi SAW 35 hari.
Kemudian turun Firman Allah SWT QS al-Baqarah [2]: 281, maka sisa hidup Nabi
SAW sesudahnya hanya 20 hari.
2) Tanda Ajal Rasulullah SAW Sudah
Dekat
Ketika turun ayat ini, banyak sahabat
yang tidak bisa menangkap rahasia di dalam balik ayat tersebut, hanya beberapa
sahabat yang memiliki kecerdasan spiritual yang mampu dan memahami kandungan ayat
tersebut, diantara sahabat tersebut adalah Ibn Abbas RA. Salah seorang sahabat
nabi yang pernah didoakan oleh nabi SAW saat masih kecil untuk menjadi orang
yang faham dalam agama. Doa beliau adalah :Allahumma faqih-hu fi-ddin
(Ya Allah jadikanlah dia (Ibn Abbas) orang yang pakar/faham dalam bidang agama
(HR Bukhari dan Muslim). Syaikh Utsaimin dalam tafsirnya, Tafsir Juz Amma,
menjelaskan bahwa ketika turun surat ini banyak orang mendekat dan bertanya
kepada Ibn Abbas RA. Maka suatu ketika Umar, dan para sahabat besar muhajirin
dan ansor berkumpul bersama untuk mendengarkan apa yang akan dijelaskan oleh
Ibn Abbas RA. Ibn Abbas bertanya kepada para sahabat: “apa yang kalian fahami
dari ayat ini? Sebagian sahabat hanya menagkap makna lahir dari surat tersebut,
mereka menjawab: “kami diperintahkan untuk bertahmid dan beristigfar, ketika
kami mendapatkan kemenangan; sementara sebagaian yang lain menjawab: “kami
tidak tahu”; sementara yang lainnya lagi hanya terdiam saja. Kemudian Umar RA
bertanya kepada Ibn Abbas: “Wahai Ibn Abbas apa tafsirmu? Ibn Abbas Menjawab:”
Wahai amirul mu’minin, itu adalah tanda ajalnya Rasulullah SAW, yang mana Allah
SWT memberitahukan kepada banginda Nabi SAW.” Kemudian umar berkata: “Demi
Allah Sungguh aku tidak tahu, kecuali apa yang telah engkau informasikan itu”.
Berdasarkan beberapa hadis, bahwa
pengetahuan Ibn Abbas sesungguhnya berdasarkan informasi langsung dari
Rasulullah yang disampaikan kepada Fatimah RA.
عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَمَّا
نَزَلَتْ ] إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللهِ وَالْفَتْحُ} [النصر:
1{ دَعَا
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ فَقَالَ: «إِنَّهُ
قَدْ نُعِيَتْ إِلَيَّ نَفْسِي» فَبَكَتْ
فَقَالَ لَهَا: «لَا
تَبْكِي فَإِنَّكِ أَوَّلُ أَهْلِي لَاحِقٌ بِي» فَضَحِكَتْ
فَرَآهَا بَعْضُ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ
لَهَا: رَأَيْتُكِ بَكَيْتِ وضَحِكْتِ، قَالَتْ: إِنَّهُ
قَالَ لِي: «قَدْ
نُعِيَتْ إِلَيَّ نَفْسِي» فَبَكَيْتُ، فَقَالَ: «§لَا
تَبْكِينَ، فَإِنَّكِ أَوَّلُ أَهْلِي لَاحِقٌ بِي» فَضَحِكْتُ.
رواه الطبراني
Ibn
Abbas menceritakan: “tatkala turun Surat al-Nashr ini, Rasulullah SAW
mengundang Fatimah, kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh telah diberitakan
tanda kematianku”, maka (Fatimah) pun menangis, kemudian Rasulullah bersabda:
“janganlah menangis, sesungguhnya engakau adalah keluargaku pertama yang akan
menemuiku. Kemudian (Fatimah) tertawa. Sebagian istri Nabi SAW melihat kejadian
itu, kemudian bertanya: “aku melihatmu menangis dan tertawa ada apa? (Fatimah)
menjelaskan: “(nabi) berkata kepadaku, bahwa tanda kematian telah memberikan
sinyal kepadanya, maka aku menangis. Kemudian beliau bersabda: “jangalah
menangis, engakau adalah kelaurga pertama yang menemuiku”, maka aku tertawa. (HR al-Tabrani)
Sesudah
turun surat ini, Rasulullah SAW semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT
dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim
menceritakan dalam kitab sahihnya, bahwa dalam setiap ruku’ dan sujud, pada
saat menjelang wafatnya Rasulullah SAW memperbanyak bacaan “subhanaka-llahumma
rabbana wa bihamdika, allahumaghfirli (maha suci engkau ya Allah Tuhan kami
dan dengan segala puji-Mu, Ya Allah ampunilah aku).”
3) Sang Nabi Pemaaf
Fathu mekah merupakan tonggak
kemenangan agama Allah SWT. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke
delapan hijrah. Sebab utamanya adalah tatakala nabi SAW melakukan perjanjian
Hudaibiyah dengan kaum Quraish, pada tahun ke enam hijrah, tetapi dikemudian
hari pihak Quraish melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian damai ini. Pengkhianatan
kaum quraish, menyebabkan Nabi SAW harus mengahadapi orang-orang Quriash dengan
berperang. Nabi SAW membawa sekitar 10 ribu pasukan keluar madinah, seraya
berdoa kepada Allah SWT supaya orang-orang Quraisy tidak memiliki kemampuan
dalam menghadapi mereka. Rasulullah SAW memasuk Mekah pada hari ke-20 Ramadhan
pada tahun 8 Hijrah, dengan mendapatkan kemenangan yang gemilang. Pada
akhirinya, orang-orang Quraish berkumpul di sekitar ka’bah, kemudian Rasulullah
berdiri di pintu Ka’bah, sementara orang-orang Quraish berada di bawah sambil
menunggu apa yang mau dilakukan oleh Nabi SAW. Sambil berpegang pada pintu
Ka’bah, Nabi SAW bersabda: “Wahai orang-orang Quraish! Apa yang kalian sangka
terhadap apa yang akan aku lakukan kepada kalian?” Selama lebih dari delapan
tahun mereka telah menjadi musuh nabi yang paling bersemangat, tetapi sekarang
meraka di bawah kendali dan pengawasan Nabi SAW. Nabi mengulangi lagi
pertanyaanya: “Apa yang kalian sangka terhadap apa yang akan aku lakukan
terhadap kalian? Mereka menjawab dengan serentak: “kebaikan, engkau adalah
saudara kami yang mulia, anak saudara kami yang mulia”. Nabi bersabda: “Sungguh
aku mengatakan kepada kalian sebagaimana Yusuf mengatakan kepada
saudara-saudaranya”.
لَا
تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ
يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ
وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ﴿٩٢﴾
"Pada hari ini tak ada cercaan
terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha
Penyayang diantara para penyayang". (QS
Yusuf [12]: 92)
Nabi SAW memberikan maaf kepada
orang-orang Quraish yang selama ini menyakiti beliau, mengusir, memerangi
beliau, menghujani pedang, tombak dan anak panah. Tetapi hati Nabi SAW yang
penuh rahmat, kasih sayang, lembut, tidak memiliki dendam sedikitpun, beliau
bersabda: “"اذهبوا فأنتم الطلقاء (Pergilah kalian, sekarang kalian bebas). Ungkapan
nabi inilah yang menjadikan hati orang Quraish gemetar, seolah mereka tidak
percaya. Orang yang selama ini mereka musuhi telah membebaskan mereka tanpa
syarat apapun. Prilaku mulia nabi inilah yang kemudian mengundang orang
berbondong-bondong memeluk Islam.
Orang-orang
kafir Quraish memerangi rasulullah dengan mengirim pasukan ke Madinah sebanyak
11 kali, yaitu: Perang al-Abwa (2H), Buwats (2H), perang Shafwan/Badr I (2H),
perang Usyairah (2H), Badar II (2 H), perang al-Suwaiq (2H), Perang Uhud (3 H),
Perang Hamaraul asad (3), Perang badar III (4H), perang Ahzab/Khandaq (5 H),
dan perang Hudaibiyah (6H). Rasulullah hanya sekali saja membawa pasukan untuk
menaklukan Mekah sebagai respon terhadap permusuhan orang-orang Quraish.
4) Fathu Mekah dan Islamnya Seluruh
Arab
Mekah merupakan simbol spiritual,
ketika Mekah dapat ditaklukan merupakan kunci bagi kemenangan Islam. Hal ini
sudah di isyaratkan oleh Allah SWT ketika memerintahkan perubahan arah kiblat
dari al-Aqso di palestina ke masjid al-haram di Mekah (QS al-Baqarah [2]: 144, 149, 150). Allah SWT juga menceritakan
tentang kisah Nabi Musa bahwa kemenangan itu didapatkan ketika orang-orang
beriman yang berperang itu bisa memasuki pintu gerbang kota (QS al-Maidah: 23).
Allah SWT juga menggambarkan tentang pemberian kemenangan kepeda Nabi SAW
dengan kemenangan yang besar (QS al-Fath: 1-3). Demikian juga Allah SWT akan
mengembalikan orang-orang yang melaksanaan hukum Allah ke daerah asal mereka
(QS al-Qasas: 58). Bahkan Allah SWT memastikan kepada Nabi SAW, bahwa beliau
akan memasuki kota Mekah dengan mencukur rambut dalam rangka untuk ibadah haji kepada
Allah SWT (QS al-Fath: 27).
Pada
tahun 8 H, merupakan pemenuhan janji Allah SWT, yaitu kemenangan Mekah dicapai,
kekufuran dan kemusyrikan dikalahkan, kemudian berbondong-bondongnya
orang-orang Arab untuk setia dan memeluk Islam. Utusan-utusan kabilah, suku,
pembesar-pembesar Arab berdatangan silih berganti menyatakan diri sebagai orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Oleh karena itulah, tahun ke-9 Hijrah
dikenal sebagai ‘ammul wufud (tahun para utusan), dimana banyak utusan
yang datang menemui nabi SAW dan menyatakan untuk setia kepada keimanan Islam.
5) Bertasbih dan beristighfar
karena pertolongan Allah
Ketika
syariat diturunkan pada periode awal kepada Nabi SAW, Allah mengingatkan untuk
bersabar (QS al-Insan: 23 dan 24). Karena syariat yang duturunkan kepadanya,
berkonsekuensi pada beban tabligh dan tatbiq dalam kehidupan
sehari-hari, tentunya memunculkan banyak tantangan yang harus dihadapi. Ketika
mendapati kemenangan dan pertolongan Allah SWT, Allah memerintahkan untuk
bertasbih dan beristighfar (QS al-nashr: 3). Perintah bertasbih memberikan
penegasan bahwa kemenagan yang datang jangan sampai menjadikan manusia lupa
akan kodratnya sebagai hamba Allah SWT, yang mana kesucian, pujian, penyembahan
hanya untuk Allah SWT semata bukan untuk manusia. Dan perintah istighfar memberikan pelajaran
bahwa setiap kemenangan yang dicapai adalah karena pengorbanan banyak orang,
termasuk orang-orang mustad’afin (lemah), dan kemungkinan juga terdapat
perbuatan-perbuatan zalim terhadap pihak lain. Oleh karena itu, seorang nabi
yang suci diajarkan untuk memohon ampun kepada Allah, sebagai ibrah kepada
manusia, apalagi manusia pada umumnya banyak melakukan kezhaliman, salah, dosa
yang tanpa disadari menjadi bagian dari kemenangan itu.
MENELADANI KARAKTER NABI SAW DAN PARA SAHABAT
Ustadz Agus Miswanto, MA
(Ketua Majelis Tarjih dan
Tajdid PDM Kab Magelang)
Disampaikan
pada pengajian Ahad pagi PCM Kajoran pada 24 November 2019, di Masjid al-Jihad
SMP Muhammadiyah Sambak, Kajoran.
QS
al-Fath [48]: 28-29
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ
وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ
شَهِيدًا ﴿٢٨﴾مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم
مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ
وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ
فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ
الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا ﴿٢٩﴾
Dialah
yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar
dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi. (28)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu
lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu
seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman
itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman
itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan
kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara
mereka ampunan dan pahala yang besar. (29)
NABI MUHAMMAD SEBAGAI RASUL
Nabi
Muhammad SAW sebagai manusia biasa (QS al-Kahfi: 110) yang diutus bukan untuk
menjadi orang tua manusia (QS al-Ahzab), tetapi berfungsi sebagai utusan Allah
yang dibekali dengan mukjizat, petunjuk dan agama yang benar (QS al-fath [48]:
28, al-nisa: 78), untuk disampaikan kepeda seluruh umat manusia. Oleh karena
itu Nabi Muhammad sebagai rahmat seluruh alam semesta (QS al-Anbiya[]; 107,
Saba’[]: 28), yaitu mengasihi dan menyayangi semesta dengan memberikan kabar
gembira dan peringatan kepada manusia (QS al-Furqan: 56, Saba’: 28, Fatir: 24),
memberikan kesaksian yaitu pelaku sejarah sekaligus penilai dan pengoreksi
kehidupan manusia(QS al-Ahzab: 45, al-Fath: 8), mendidik, mengajar, mendakwahi
manusia (QS al-Syura: 48, Yusuf: 108), serta menjadi suri tauladan yang baik untuk
kehidupan manusia (QS al-Ahzab [33]: 21). Dan Nabi Muhammad berkedudukan sebagai
penutup para nabi, yang tidak ada nabi lain setelah kenabianya (QS al-Ahzab
[33]: 40). Serta dalam rangka untuk memenangkan agama Allah SWT atas semua
agama yang ada (QS al-Fath [48]: 28, al-taubah: 33, al-shaff: 9).
KEHIDUPAN
NABI DAN PARA SAHABAT
1)
Tegas
Kepada Kekafiran
Nabi
SAW dan para sahabat dikenal sebagai sosok yang tegas terhadap kekufuran (QS
al-fath [48]: 29). Nabi dan para sahabat tidak pernah berkompromi dalam
persoalan kekufuran dan keingakaran kepada Allah SWT. Al-Baghawi dalam tafsirnya
Maalim al-Tanzil, menceritakan bahwa suatu saat orang-orang Quraisy melakukan
negosiasi dengan Nabi SAW, yaitu mereka mengajak kompromi Nabi SAW untuk ikut
dalam penyembahan berhala mereka, dan mereka akan ikut ibadah kepada Allah SWT
secara bergantian. Tetapi Nabi SAW menolak dan kemudian turun wahyu Allah SWT,
QS al-Kafirun: 1—6. Dan suatu saat orang-orang quraisy melalui mediasi Abu
Thalib membujuk Nabi SAW untuk meninggalkan dakwah Islam dengan imbalan untuk
diangkat menjadi raja orang-orang quraish dengan diberikan harta serta wanita. Sekali
lagi Nabi SAW menolak tawaran tersebut, bahkan Nabi SAW bersumpah: “sekiranya
mereka dapat meletakan matahari di tangan saya, bulan di tangan kiri saya,
untuk meninggalkan agama ini, maka sungguh aku tidak akan pernah meninggalkannya
untuk selama-lamanya”.
Dari segi bahasa kufur berasal dari kata Arab: kufr,
yang berarti menutupi, atau menyembunyikan suatu kebaikan yang telah
diterima, dan atau tidak berterima kasih atas kebaikan yang
diterima. Sedangkan dari segi istilah kufur sering diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang
menolak, menentang, mendustkan dan mengingkari kebenaran dari Allah yang disampaikan oleh rasul-Nya.
Dalam al-Qur’an, kata kufur mengacu kepada perbuatan yang ada hubungan
dengan Tuhan. Dengan demikian, sikap atau perbuatan yang termasuk
dalam kategori kufur ini, antara lain dapat diidentifikasi seperti:
a.
Mengingkari nikmat dan karunia Allah SWT dan tidak
berterima kasih kepada-Nya (QS al-Nahl: 55, al-Rum: 34).
b.
Lari dari tanggung jawab atau berlepas diri dari suatu
perbuatan (QS Ibrahim: 22)
c.
Pembangkangan atau penolakan terhadap hukum-hukum Allah
SWT (QS al-Maidah: 44).
d.
Meninggalkan amal salih yang diperintahkan Allah SWT (QS
ar-Rum: 44)
Lebih jauh, dalam al-qur’an terdapat beberapa kata yang
semakna dengan kata kufur, yaitu: Bagha
yang berarti melampaui batas (QS
al-Syura:27) (Batira yang berarti bermewah-mewah/bersenang-senang (QS
al-Qasas: 58),‘Ata yang berarti melampaui batas (QS al-Furqan: 21, at-talaq:
8, dan Al-A’raf: 166), Tagha
yang berarti kesesatan(QS al-Maidah:
64, 68, 69, dan 72, al-Kahfi: 80, al-Syams: 11-12, Yunus: 7-8 dan 11,
al-Nazi’at: 37-41 dan shad: 55-56). Istighna’
yang berarti merasa serba cukup (QS
al-‘Alaq: 6-7, dan al-Lail: 8-11) dan jabbar
yang berarti sewenang-wenang (QS
al-Mu’min: 35, QS Maryam: 12-14 dan 31 – 32).
2)
Lemah
Lembut Sesama Orang Beriman
Nabi SAW dan para sehabat menunjukan keteladanan dalam
membangun relasi persaudaraan antara orang-orang beriman, mereka saling mengokohkan,
menolong, dan kerjasama.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم
بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿التوبة:
١٢٨﴾
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul
dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang mukmin. (QS al-taubah: 128)
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ
مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي
صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ
كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿الحشر:
٩﴾
Dan orang-orang yang telah
menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka
(Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka
(Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang orang yang beruntung (QS al-Hasyr: 9)
3)
Amal
Ibadah yang berbekas
Secara
spiritual, amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman menjadi penanda
pembeda antara yang beriman dan tidak beriman pada saat di dunia maupun
akhirat. Pada saat di dunia, wajah orang-orang beriman menunjukan kesejukan,
bahagia dan penuh persaudaraan. Sementara saat diakhirat, wajah oran beriman
bercahaya (QS al-Tahrim: 8, al-hadid: 12 dan 19), sementara wajah orang kafir
adalah gelap.
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ
أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ ﴿آلعمران: ١٠٦﴾
pada hari yang di waktu
itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun
orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa
kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan
kekafiranmu itu". (QS Ali Imron: 106)
Nabi
dan para sahabat melakukan aktivitas amal ibadah dan dakwah hanya semata-mata
untuk mengharapkan ridha Allah SWT, bukan untuk membangun kebesaran diri,
keluarga, ataupun suku, tetapi untuk kebesaran dan kejayaan Islam. Dalam
gambaran QS al-Fath: 29 di atas, Islam yang dibawa nabi SAW diibaratkan sebagai
tanaman yang sedang tumbuh, berkembang, dan menjadi besar menjulang.
Tunas-tunas yang ditumbuh sebagai cabang dan ranting merupakan dakwah dari para
sahabat saling mengokohkan untuk tumbuhnya batang (Islam) yang kuat dan besar,
dimana menjadikan Islam sebagai agama yang dikagumi oleh banyak orang karena
kontribusi masing-masing sahabat yang tidak diragukan lagi. Yang pada akhirnya
Islam menjadi menang atas segala bentuk kepercayaan yang batil yang selama ini
menjadi pegagangan orang-orang kafir. Dalam ayat lain kehidupan orang Islam
yang saling menolong untuk agama Allah digambarkan seperti pohon yang baik,
tumbuh dengan penuh rindang dan akarnya kuat menghunjam ke bumi (QS Ibrahim: 24).
Subscribe to:
Posts (Atom)
