IMAM SYAFI'I: SEJARAH KEHIDUPAN DAN METODE IJTIHADNYA

Oleh:
Agus Miswanto, MA

A.    BIOGRAFI IMAM AS-SYAFI’I

Imam Syafi’i adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris  bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi'i, nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah SAW pada kakeknya, Abdul Manaf. Imam Syafi'i lahir pada bulan Rajab pada tahun 150 H. di Gaza, tidak lama kelahiran beliau, ayah beliau wafat. Ibu beliau bernama Fatimah al-Azdiyah, salah satu kabilah di Yaman.


Imam Syafi'i kecil memiliki kecerdasan yang mengagumkan serta kecepatan hafalan yang luar biasa. Beliau pernah berkata: "Saat aku di kuttab, aku mendengar guruku mengajar ayat-ayat Alquran, maka aku langsung menghafalkan, apabila dia mendiktekan sesuatu. Belum selesai guruku membacakannya kepada kami, aku telah menghafal seluruh apa yang didiktekannya. Maka dia berkata kepadaku suatu hari: Demi allah, aku tidak pantas mengambil bayaran dari kamu sesen pun". Imam Syafi'i amat gemar mengembara, khususnya bertujuan menuntut ilmu.[1]

Imam Syafi’i pindah ke Madinah untuk belajar fikih kepada Imam Malik, pada usia dua puluh tahun sampai Imam Malik meninggal pada tahun 179 H. pada tahun 184 H, Khalifah Harun Al-Rasyid memerintahkan Imam Syafi'i didatangkan ke Baghdad bersama sembilan orang lainnya atas tuduhan menggulingkan pemerintahan. Namun beliau dapat lepas dari tuduhan itu atas bantuan Muhammad Ibn al-Hasan Al-Syaibani, murid dan teman Imam Hanafi, yang kemudian hari menjadi guru beliau.[2]

Tak lama berada di Baghdad, Imam Syafi'i  kembali ke Mekkah al-Mukarramah, dengan membawa ilmu ahl ra'yu, yang dia peroleh dari Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, yang bersinergi dengan ilmu ahl Hijaz, yang diperoleh dari Imam Malik. Pada tahun 195 H, beliau kembali ke Baghdad yang bertujuan untuk berdiskusi tentang fikih. Tidak lama di Baghdad, beliau melanjutkan perjalanan ke Mesir dan tiba di Mesir pada bulan Syawal tahun 199 H. tak lama setelah tinggal di Mesir, tepatnya tahun 2004 204 H, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Konon beliau sebelum wafat menderita penyakit wasir yang parah, hingga terkadang jika naik kuda, darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaos kakinya. Beliau rela menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir. Selain itu, beliau terus mengajar, meneliti, dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.[3]

B.    GURU-GURU IMAM SYAFI'I

Imam Syafi'i merupakan ulama sintesis yang beraliran antara ahl ra'yu dan ahl hadis (Kufah dan Madinah), di Kufah Imam Syafi'i menimba ilmu kepada Muhammad Ibn al-Hasan al Syaibani yang merupakan murid sekaligus sahabat dari Imam Hanafi. Sedangkan di Madinah, beliau belajar kepada Imam Malik, beliau (Imam Malik) dikenal dengan sebutan ahl Hadis. Selain itu, beliau juga berguru kepada ulama-ulama di Yaman, Mekah dan Madinah. Adapun ulama Yaman yang menjadi guru Imam Syafi'i yaitu :

1)      Mutharaf Ibn Mazim
2)      Hisyam Ibn Yusuf
3)      'Umar Ibn Abi Salamah
4)      Yahya Ibn Hasan
Adapun selama tinggal di Mekkah, Imam Syafi'i belajar kepada beberapa ulama antara lain:

1)      Sufyan Ibn 'Uyainah
2)      Muslim Ibn Khalid al-Zauji
3)      Sa'id Ibn Salim al-Kaddah
4)      Daud Ibn 'Abdurrahman al-'Aththar
5)      'Abdul Hamid 'Abdul aziz Ibn Muhammad ad-Dahrawardi
6)      Ibrahim Ibn Abi Sa'id Ibn Abi Fudaik
7)      'Abdullah Ibn Nafi'.[4]
Selain dua fikih di atas (aliran ra'yu dan hadis), Imam Syafi'i juga belajar fikih aliran al-Auza'i dari 'Umar Ibn Abi Salamah dan fikih al-Laits dari Yahya Ibn Hasan.

C.     MURID-MURID IMAM SYAFI'I

Imam Syafi'i mempunyai banyak murid yang melestarikan kajian fikih dalam alirannya. Yang paling berperan dalam pengembangan aliran fikih Imam Syafi'i ini antara lain:

1.     Al-Muzani

Nama asli beliau Abu Ibrahim Ismail Ibn Yahya al-Muzani al-Misri yang lahir pada tahun 185 H serta menjadi besar dalam menuntut ilmu dan periwayatan hadis. Saat Imam Syafi'i datang ke Mesir pada tahun 1994, al-Muzani  menemuinya dan belajar fikih kepadanya. Al-Muzani dianggap orang yang paling pandai, serdas serta yang paling banyak menyusun kitab untuk mazhabnya. Beliau meninggal pada tahun 264 H. adapun kitab karangan beliau antara lain al-Jami' al-Kabīr, al-Jami' aş-Şagir, serta yang terkenal al-Mukhtaşar aş-Şagir.[5]

2.     Al-Buwaiti

Nama beliau adalah Abu Ya'qub Yusuf Ibn Yahya al-Buwaiti, yang berasal dari Bani Buwait kampung di Tanah Tinggi  Mesir. Beliau adalah murid sekaligus sahabat Imam Syafi'i yang tertua  bekebangsaan Mesir dan pengganti atau penerus Imam Syafi'i, sepeninggalnya. Beliau belajar fikih dari Imam Syafi'i dan mengambil hadis darinya pula serta dari Abdullah bin Wahab dan dari yang lainnya. Imam Syafi'i merupakan sandarannya dalam berfatwa serta pengaduannya apabila diberikan satu masalah padanya. Beliau selalu menghidupkan malam dengan membaca Alquran dan shalat serta selalu menggerakkan kedua bibirnya dengan berdzikir kepada Allah. Beliau wafat pada tahun 231 H. di dalam penjara Baghdad, karena tidak menyetujui paham Mu'tajilah yang merupakan paham resmi negara saat itu, tentang kemakhlukan Alquran. Beliau menghimpun kitab al-fiqh, al-Mukhtaşar al-Kabīr, al-Mukhtaşar aş-Şagir dan al-Fara'id dalam aliran Imam Syafi'i menjadi satu.[6]

Selain mereka berdua, murid-murid Imam Syafi'i yang lain, yaitu ar-Rabi' Ibn Sulaiman al-Marawi, 'Abdullah Ibn Zubair al-Hamidi. Abu Ibrahim, Yunus Ibn Abdul a'la as-Sadafi, Ahmad Ibn Sibti, Yahyah Ibn Wazir al-Misri, Harmalah Ibn Yahya Abdullah at-Tujaidi, Ahmad Ibn Hanbal, Hasan Ibn 'Ali al-Karabisi, Abu Saur Ibrahim Ibn Khalid Yamani al-Kalbi serta Hasan Ibn Ibrahim Ibn Muhammad as-Sahab az-Za'farani.[7]

D.    KARYA INTELEKTUAL IMAM SYAFI’I

Adapun beberapa kitab fikih karangan Imam Syafi'i, seperti kitab al-Umm dan al-Risālah yang merupakan rujukan utama para ulama mazhab syafi'i dalam fikih dan ushul fikih. Selama itu, kitab lain karangan Imam Syafi'i seperti al-Musnad yang merupakan kitab hadis Nabi SAW yang dihimpun dari al-Umm, serta ikhtilāf  al-Hadīś, yaitu kitab yang menguraikan pendapat Imam Syafi'i mengenai perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam hadis.[8]

Beberapa kitab kaidah fikih Imam Syafi'i yang dikarang oleh ulama-ulama  bermazhab Syafi'i antara lain :

1)      Qawā'id al-ahkam fī Maşālih al-Anam karya Ibnu 'Abdulsalam (wafat 660 H)
2)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Ibnu Wakil (wafat 716 H)
3)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Taj al-Din al-Subki (wafat 771 H)
4)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Ibnu al-Mulaqqin (wafat 804 H)
5)      Al-Asybah wa al-Nazā'ir karya Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H).[9]

E.     METODE IJTIHAD IMAM SYAFI’I

1)    Dalil Hukum

Menurut Muhammad Zuhri, dalam bukunya Hukum Islam dalam Lintasan sejarah, bahwa secara sederhana, dalil-dalil hukum yang digunakan Imam Syafi'i dalam Istinbāţ hukum, antara lain : (1) Alquran dan sunnah; (2) Ijmak; dan (3) Menggunakan al-Qiyas dan  at-Takhyir bila menghadapi ikhtilaf.[10]

Sementara itu, menurut Rasyad Hasan Khalil,bahwa dalam istinbath hukum, Imam Syafi’i menggunakan lima sumber, yaitu:

a.       Nash-nash, baik Alquran dan sunnah yang merupakan sumber utama bagi fikih Islam, dan selain keduanya adalah pengikut saja. Para sahabat terkadang sepakat atau berbeda pendapat, tetapi tidak pernah bertentangan dengan Alquran atau sunnah.

b.      Ijmak, merupakan salah satu dasar yang dijadikan hujjah oleh imam Syafi’i menempati urutan setelah Alquran dan sunnah. Beliau mendefinisikannya sebagai kesepakatan ulama suatu zaman tertentu terhadap satu masalah hukum syar’i dengan bersandar kepada dalil. Adapun ijmak pertama yang digunakan oleh imam Syafi’i adalah ijmaknya para sahabat, beliau menetapkan bahwa ijmak diakhirkan dalam berdalil setelah Alquran dan sunnah. Apabila mmasalah yang sudah disepakati bertentangan dengan Alquran dan sunnah maka tidak ada hujjah padanya.

c.       Pendapat para sahabat. Imam Syafi’i membagi pendapat sahabat kepada tiga bagian. Pertama, sesuatu yang sudah disepakati, seperti ijmak mereka untuk membiarkan lahan pertanian hasil rampasan perang tetap dikelola oleh pemiliknya. Ijmak seperti ini adalah hujjah dan termasuk dalam keumumannya serta tidak dapat dikritik. Kedua, pendapat seorang sahabat saja dan tidak ada yang lain dalam suatu masalah, baik setuju atau menolak, maka imam Syafi’i tetap mengambilnya. Ketiga, masalah yang mereka berselisih pendapat, maka dalam hal ini imam Syafi’i akan memilih salah satunya yang paling dekat dengan Alquran, sunnah atau ijmak, atau mrnguatkannya dengan qiyas yang lebih kuat dan beliau tidak akan membuat pendapat baru yang bertentangan dengan pendapat yang sudah ada.

d.      Qiyas. Imam Syafi’i menetapkan qiyas sebagai salah satu sumber hukum bagi syariat Islam untuk mengetahui tafsiran hukum Alquran dan sunnah yang tidak ada nash pasti. Beliau tidak menilai qiyas yang dilakukan untuk menetapkan sebuah hukum dari seorang mujtahid lebih dari sekedar menjelaskan hukum syariat dalam masalah yang sedang digali oleh seorang mujtahid.

e.       Istidlal. Imam Syafi’i memakai jalan istidlal dalam menetapkan hukum, apabila tidak menemukan hukum dari kaidah-kaidah sebelumnya di atas. Dua sumber istidlal yang diakui oleh imam Syafi’i adalah adat istiadat (‘urf) dan undang-undang agama yang diwahyukan sebelum Islam (istishab). Namun begitu, kedua sumber ini tidak termasuk metode yang digunakan oleh imam Syafi’i sebagai dasar istinbath hukum yang digunakan oleh imam Syafi’i.[11]

Sedangkan manhaj atau langkah-langkah ijtihad Imam Syafi'i, seperti yang dikutip DR. Jaih Mubarok dari Ahmad Amin dalam kitabnya Duha al-Islam, yaitu sebagai berikut :

… rujukan pokok adalah Alquran dan sunnah. Apabila suatu persoalan tidak diatur dalam Alquran dan sunnah, hukumnya ditentukan dengan qiyas. Sunnah digunakan apabila sanadnya sahih. Ijmak diutamakan atas khabar mufrad. Makna yang diambil dari hadis adalah makna zahir. Apabila suatu lafaz ihtimal (mengandung makna lain), maka makna zahir lebih diutamakan.hadis munqati' ditolak kecuali jalur Ibn Al-Musayyab. As-Asl tidak boleh diqiyaskan kepada al-asl. Kata "mengapa" dan "bagaimana" tidak boleh dipertanyakan kepada Alquran dan sunnah, keduanya dipertanyakan hanya kepada al-Furu'…[12]

2)    Qaul Qadim dan Qaul Jadid.

Ulama membagi pendapat imam Syafi’i menjadi dua, yaitu Kaul Qadim dan Kaul Jadid. Kaul Qadim adalah pendapat imam Syafi’i yang dikemukakan dan ditulis di Irak. Sedangkan Kaul Jadid adalah pendapat imam Syafi’i yang dikemukakan dan ditulis di Mesir. Di Irak, beliau belajar kepada ulama Irak dan banyak mengambil pendapat ulama Irak yang termasuk ahl al-ra’y. Di antara ulama Irak yang banyak mengambil pendapat imam Syafi’i dan berhasil dipengaruhinya adalah Ahmad bin Hanbal, al-Karabisi, al-Za’farani, dan Abu Tsaur.

Setelah tinggal di Irak, imam Syafi’i melakukan perjalanan ke Mesir kemudian tinggal di sana. Di Mesir, dia bertemu dengan (dan berguru kepada) ulama Mesir yang pada umumnya sahabat imam Malik. Imam Malik adalah penerus fikih Madinah yang dikenal sebagai ahl al-hadits. Karena perjalanan intelektualnya itu, imam Syafi’i mengubah beberapa pendapatnya yang kemudian disebut Kaul Jadid. Dengan demikian, Kaul Qadim adalah pendapat imam Syafi’i yang bercorak ra’yu, sedangkan Kaul Jadid adalah pendapatnya yang bercorak sunnah.[13]

Beberapa contoh pendapat Kaul Qadim dan Kaul Jadid antara lain:

a.       Air yang terkena najis. Kaul Qadim: air yang sedikit dan kurang dari dua kullah, atau kurang dari ukuran yang telah ditentukan, tidak dikategorikan air mutanajjis selama air itu tidak berubah. Kaul Jadid: air yang sedikit dan kurang dari dua kullah, atau kurang dari ukuran yang telah ditentukan, tidak dikategorikan air mutanajjis apakah air itu berubah atau tidak.

b.      Zakat buah-buahan. Kaul Qadim: wajib mengeluarkan zakat buah-buahan, walaupun yang tidak tahan lama. Kaul Jadid: tidak wajib mengeluarkan zakat buah-buahan yang tidak tahan lama.

c.       Membaca talbiyah dalam thawaf. Qaul Qadim: sunat hukumnya membaca talbiyah dalam melakukan thawaf. Qaul Jadid: tidak sunat membaca talbiyah dalam melakukan thawaf.[14]

F.     APLIKASI METODE ISTINBĀŢ HUKUM IMAM SYAFI’I.

1)    Masalah imamah

Menurut imam Syafi’i, masalah imamah termasuk masalah agama (amrdiniy); karena itu menurutnya mendirikan imamah merupakan  kewajiban agama (bukan sekedar kewajiban aqli). Pemimpin umat Islam mesti beragama Islam dan orang-orang Islam terlindungi. Selanjutnya dia berpendapat bahwa pemimpin mesti berasal dari kalangan Quraisy. Alasannya karena ada sebuah riwayat yang sangat terkenal di kalangan Sunni yang dijadikan kunci penyelesaian perdebatan politik di Saqifah Bani Sa’dah untuk menentukan pengganti Nabi Saw sebagai pemimpin negara dan agama. Dalam pandangan imam Syafi’i pemimpin yang berkualitas adalah pemimpin yang memiliki kriteria berikut:

a.       Berakal.
b.      Dewasa.
c.       Merdeka.
d.      Beragama Islam.
e.       Laki-laki.
f.       Dapat melakukan ijtihad.
g.      Memiliki kemampuan mengatur (manajerial, Al-tadbir).
h.      Gagah berani.
i.        Melakukan perbaikan agama.
j.        Dari kalangan Quraisy.[15]

2)    Masalah hakim perempuan.

Salah satu perdebatan ulama yang cukup menarik untuk diteliti adalah tentang hakim perempuan. Menurut imam Syafi’i perempuan tidak boleh menjadi hakim secara mutlak; artinya, perempuan tidak boleh menjadi hakim, baik hakim yang menangani hukum perdata maupun pidana. Cara ijtihad yang digunakannya adalah analogi atau Qiyas. Dalam pandangannya, Nabi Muhammad melarang perempuan menjadi pemimpin. Karena itu perempuan tidak diperbolehkan menjadi hakim. Pemimpin perempuan dijadikan al-ashl (pokok) dan hakim perempuan dijadikan sebagai al-far’ (cabang).[16]




[1] Muhammad Hasan al-Jamal. Hayāh al-Imāmah, diterjemahkan oleh M. Khaled Muslih dan Imam Awaluddin dengan judul Biografi 10 Imam Besar, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2007, C. ke 3, h. 59-65. Lihat juga M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab, Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada, 2002, h. 203-4.
[2] Abdul Azis Dahlan (et.al), Ensiklopedi Hukum Islam, artikel "Asy-Syafi'i", Imam" Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, Jilid 5, C. ke I, h. 1680.
[3] M. Hasan Al. Jamal, Hayāh, h. 84.
[4] Saifudin Nur, Ilmu Fiqh Suatu Pengantar Komprehensif Kepada Hukum Islam, Bandung: Tafakur, 2007, C. Ke I, h.  99-100.
[5] Muhammad Ali As-Sayis, Tārikh al-Fiqh al-Islāmi, diterjemahkan oleh Nurhadi Aga dengan judul Sejarah  Fikih Islam, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2003, C. Ke I, h. 156-7.
[6]Ibid, h. 157. Lihat juga Abu Amenah Bilal Philips, The Evolution of Fiqh: Islamic Law and the Madhabs, diterjemahkan oleh Muhammad Fauzi Arifin, dengan Judul Asal Usul dan Perkembangan Fiqih, Bandung: Nusa Media dan Nuansa, 2005, C. ke I, h. 113.
[7] Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam, artikel "Syafi'i, Imam", Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 2001, Jilid 4, C. ke 5, h. 329. Bandingkan dengan Rasyad Hasan Khalil, Tārikh al-Tasyrī’  al-Islāmi, diterjemahkan oleh Nadirsyah Hawari dengan judul Tarikh Tasyri’, Sejarah Legislasi Hukum Islam, Jakarta; Amzah, 2009, h. 188.
[8] Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000, C. ke I, h. 115.
[9]Ibid.
[10] Muhammad Zuhri, Hukum Islam Dalam Lintasan Sejarah, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996, C ke I, h. 113-9. Lihat juga Muhammad Ali as-Sayis, Tarikh, h. 155. Lihat Khudhari Beik, Tārikh al-Tasyrī’ al-Islāmi, diterjemahkan oleh M. Zuhri dengan judul Tarjamah Tarikh al-Tasyri’ al-Islami, Semarang; Daarul Ihya, t.th., h. 436-7.
[11] Rasyad Hasan Khalil, Op. Cit., h. 189-190.
[12] Jaih Mubarok, Sejarah, h. 105-106.
[13] Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam, Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid,  Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada, 2002, h.  9-11.
[14] M. Ali Hasan, Op. Cit., h. 215-218.
[15]Ibid., h. 113-4.
[16]Ibid., h. 114.