AGAMA: TEORI TENTANG ASAL-USUL DAN KELAHIRAN AGAMA


Oleh:
Agus Miswanto, MA

Berbagai macam teori tentang asal-usul agama telah dikemukakan oleh para sarjana dari berbagai disiplin ilmu, terutama ilmuwan sosial. Mereka telah mecoba meneliti asal-usul agama atau menganalisis sejak kapan manusia mengenal agama dan kepercayaan terhadap Tuhan. Dalam perspektif sosiologis paling tidak ada enam teori tentang asal-usul agama, yaitu:


1. Teori Jiwa
Para ilmuwan penganut teori ini berpendapat, agama yang paling awal bersamaan dengan pertama kali manusia mengetahui bahwa di dunia ini tidak hanya dihuni oleh makhluk materi, tetapi juga oleh makhkluk imateri yang disebut jiwa (anima). Pendapat ini dipelopri oleh seorang ilmuwan inggris yang bernama Edward Burnet Taylor (1832-1917). Dalam bukunya yang sangat terkenal, The Primitif Culture (1872) yang mengenalkan teori animisme, ia mengatakan bahwa asal mula agama bersamaan dengan munculnya kesadaran manusia akan adanya roh atau jiwa. Mereka memahami adanya mimpi dan kematian, yang mengantarkan mereka kepada pengertian bahwa kedua peristiwa itu – mimpi dan kematian – merupakan bentuk pemisahan antara roh dan tubuh kasar.

Apabila orang meninggal dunia, rohnya mampu hidup terus walaupun jasadnya membusuk. Dari sanalah asal mula kepercayaan bahwa roh yang telah mati itu kekal abadi. Selanjutnya, roh orang matiitu dipercayai dapat mengunjungi manusia, dapat menolong manusia dan juga bisa menjaga manusia yang masih hidup, terutama anak cucu, teman dan keluarga sekampung.

Tingkat yang paling dasar dari evolusi agama adalah ketika manusia percaya bahwa makhluk-makhluk halus itulah yang menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Karena mereka bertubuh halus, manusia tidak bisa menangkap dengan panca indranya. Makhluk halus itu mampu berbuat berbagai hal yang tidak dapat diperbuat oleh manusia. Berdasarkan kepercayaan semacam itu, makhluk halus menjadi obyek penghormatan dan penyembahan manusia dengan berbagai upacara keagamaan berupa doa, sesajen, atau korban. Kepercayaan seperti itulah yang oleh E.B. Taylor disebut animisme.

2. Teori Batas Akal
Teori ini menyatakan bahwa permulaan terjadinya agama dikarenakan manusia mengalami gejala yang tidak dapat diterangkan oleh akalnya. Teori batas akal ini berasal dari pendapat seorang ilmuwan besar Inggris, James G. Frazer. Menurut Frazer, manusia bisa memecahkan berbagai persoalan hidupnya dengan akal dan system pengetahuanya. Tetapi akal dan system pengetahuan itu ada batasnya, dan batas akal itu meluas sejalan dengan meluasnya perkembangan ilmu dan teknologi. Oleh karena itu, makin maju kebudayaan manusia, makin luas batas akal itu.

Dalam banyak kebudayaan di dunia ini, sebagain batas akal manusia itu masih amat sempit karena tingkat kebudayaanya masih sangat sederhana. Oleh karena itu, berbagai persoalan hidup banyak yang tidak dapat dipecahkan dengan akal mereka. Maka mereka memecagkannya melalui magic atau ilmu gaib.

Pada mulanya, manusia hanya menggunakan ilmu gaib untuk memecahkan soal-soal hidupnya yang ada di luar batas kemampuan dan penegtahuan akalnya. Lambat laun terbukti banyak perbuatan magicnya itu tidak ada hasilnya. Oleh karena itu, ia mulai percaya bahwa alam ini didiami oleh makhluk-makhluk halus yang lebih berkuasa dari pada manusia. Maka mereka mulai mencari hubungan yang baik dengan makhluk-makhluk halus yang mendiami alam ini. 

Dengan demikian, hubungan baik ini menyebabkan manusia mulai mempercayakan nasibnya kepada kekuatan yang dianggap lebih darinya. Dari sinilah mulai timbul religi.
Menurut Frazer, ada perbedaan antara magic dan religi. Magic adalah segala system perbuatan dan sikap manusia untuk mencapai suatu maksuddengan menguasai dan menggunkan kekuatan dan hukum-hukum gaib yang ada di alam. Sedangkan agama (religion) adalah segala system kepercayaan dan system perbuatan manusia untuk mencapai suatu maksud dengan cara menyandarkan diri kepada kemauan dan kekuasaan Tuhan, makhluk halus, roh, atau dewa dewi yang dianggap menguasai alam. Berbagai macam ritus merupakan cara manusia agar Tuhan berkenan menolongnya dari segala permasalahan hidup.

3. Teori Krisis Dalam Hidup Individu
Teori ini mengatakan bahwa kelakuan keagamaan manusia itu mulanya muncul untuk menghadapi krisis-krisis yang ada dalam kehidupan manusia itu sendiri. Teori ini berasala dari M. Crawley, dalam bukunya The True Of Life (1905), yang kemudian diuraikan secara luas dan terperinci oleh A. Van Gennep dalam bukunya Rites de Passage (1910).

Menurut kedua sarjana tersebut, dalam jangka waktu sejarah hidupnya, manusia mengalami banyak krisis yang terjadi dalam masa-masa tertentu. Krisis tersebut menjadi obyek perhatian manusai dan sangat menakutkan. Betapapun bahaginya sesorang, ia harus ingat akan kemungkinan-kemungkinan timbulnya krisis dalam hidupnya. Berbagai krisis tersebut – terutama berupa bencana, seperti sakit dan maut – sangat sukar dihindarinya walaupun dihadapi dengan kekuasaan dan kekayaan harta benda. Dua macam bencana tadi sangat sulit dielakan. Karena selama hidupnya ada beberapa krisis, manusia butuh sesuatu untuk memperteguh dan mengautkan dirinya. Perbuatan berupa upacara sacral pada masa krisis merupakan pangkal dari keberagamaan manusia.

4. Teori Kekuatan Luar Biasa
Teori ini mengatakan bahwa agama dan sikap religius manusia terjadi karena adanya kejadian luar biasa yang menimpa manusia yang terdapat di lingkungan alam sekitarnya. Teori ini diperkenalkan oleh seorang ahli antropologi Inggris yang bernama R.R. Marett dalam bukunya The Threshold of Religion.

Antropolog ini menguraikan teorinya diawali dengan satu sanggahan terhadap pendapat E. B. Taylor yang menyatakan bahwa timbulnya agama itu karena adanya kesadaran manusia terhadap adanya jiwa. Menurut Marett, kesadaran seperti itu terlalu rumit dan terlalu kompleks bagi ukuran pikiran manusia yang baru saja ada pada kehidupan di muka bumi ini. Ia mengajukan teori barunya bahwa pangkal dari segala kelakukan keagamaan pada manusia ditimbulkan oleh suatu perasaan rendah diri terhadap adanya gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa yang dianggap luar biasa dalam kehidupan manusia. Alam tempat gejala dan peristiwa-peristiwa itu berasal – yang dianggap memilki kekuatan yangmelebihi kekuatan yang telah dikenal manusia di alam sekelilingnya disebut super natural. 

Gejala-gejala dan peristiwa-peristiwa luar biasa tadi dianggap akibat dari suatu kekuatan super natural atau kekuatan luar biasa sakti. Kepercayaan kepada suatu kekuatan sakti yang ada dalam gejala-gejala, hal-hal, dan peristiwa yang luar biasa itu dianggap oleh Marett sebagai suatu kepercayaan yang ada pada manusia sebelum mereka percaya kepada makhluk halus dan roh. Dengan perkataan lain, sebelum adanya kepercayaan animisme, manusia mempunyai kepercayaan preanimisme. Marett menyatakan bahwa preanimisme lebih dikenal dengan sebutan dinamisme.

5. Teori Sentimen Kemasyarakatan
Teori ini menyatakan bahwa agama yang permulaan itu muncul karena adanya suatu getaran, suatu emosi yang ditimbulkan dalam jiwa manusia sebagai akibat dari pengaruh rasa kesatuan sebagai sesama warga masyarakat. Teori yang disebut “teori sentimen kemasyarakatan” ini berasal dari pendapat seorang ilmuwan Prancis, Emile Durkheim, yang diuraikan dalam bukunya Les Formes Elementaires de Lavia Religieuse (The Elementary Forms of the religious Life, 1965). 

Dalam bukunya itu, Durkheim mengemukakan teori baru tentang dasar-dasar agama yang sama sekali berbeda denga teori-teori yang pernah dikembangkan oleh para ilmuwan sebelumnya. Teori tersebut berpusat pada pengertian dasar sebagai berikut:

a. Bahwa untuk pertama kalinya, aktivitas religi yang ada pada manusia bukan karena pada alam pikiranya terdapat bayangan-bayangan abstrak tentang jiwa atau roh – suatu kekuatan yang menyebabkan hidup dan gerak di dalam alam – tetapi, karena suatu getaran jiwa, atau emosi keagamaan, yang timbul dalam alam jiwa manusia dahulu, karena pengaruh suatu sentimen kemasyarakatn.

b. Bahwa sentimen kemasyarakatan dalam batin manusia dahulu berupa suatu kompleksitas perasaan yang mengandung rasa terikat, bakti, cinta, dan perasaan lainya terhadap masyarkat di mana ia hidup.

c. Bahwa sentimen kemasyarakat yang menyebabkan timbulnya emosi keagamaan dan merupakan pangkal dari segala kelakukan keagamaan manusia itu, tidak selalu berkobar-kobar salam alam batinya. Apabila tidak dipelihara, maka sentimen kemasyarakatan itu menjadi lemah dan laten, sehingga perlu dikobarkan sentimen kemasyarakatan dengan mengadakan satu kontraksi masyarakat dalam pertemuan-pertemuan raksasa.

d. Bahwa emosi keagamaan yang timbul karena rasa sentimen kemasyarakatan membutuhkan suatu obyek tjuan. Sifat yang menyebabkan sesuatu itu menjadi obyek dari emosi keagamaan bukan karena sifat luar biasanya, anehnya, megahnya, atau ajaibnya, melainkan tekanan anggapan umum masyarakat. Obyek itu ada karena terjadinya satu peristiwa secara kebetulandi dalam sejarah kehidupan suatu masyarakat masa lampau menarik perhatian orang banyak di dalam masyarakat tersebut. Obyek yang menjadi tujuan emosi keagaan juga obyek yang bersifat keramat. Maka obyek lain yang tidak mendapat nilai keagamaan (tirual value) dipandang sebagai obyek yang tidak keramat.

e. Obyek keramat sebenarnya merupakan suatu lambang masyarakat. Pada suku-suku bangsa asli Australia misalnya, obyek keramat dan pusat tujuan dari sentimen kemasyarakatan, sering berupa binatang dan tumbuh-tumbuhan. Obyek keramat seperti itu disebut totem. Totem adalah mengkonkretkan prinsip totem di belakangnya. Prinsep totem itu adalah suatu kelompok di dalam masyarakat berupa clan (suku) atau lainya.

6. Teori Wahyu Tuhan
Teori ini menyatakan bahwa kelakuan religius manusia terjadi karena mendapat wahyu dari Tuhan. Teori ini dikembangkan oleh seorang antropolog Inggris bernama Andrew Lang. Pendapat Andrew Lang ini kemudian dilanjutkan oleh W Schmidt seorang tokoh besar antropologi dari Austria. Dalam hubungan ini, ia percaya bahwa agama berasal dari wahyu Tuhan yang diturunkan kepada manusia pada masa permulaan ia muncul di muka bumi ini.


No comments: